Menjelang ulang tahun Persijap Jepara yang ke-68 ini, saya ingin menyampaikan janji dan kekecewaan saya dalam mendukung klub ini. Bukan karena hasil atau raihan trofi. Beberapa tahun saya mengikuti, beberapa tahun saya berhenti, beberapa tahun pula saya kembali. Bukan sebagai penggemar yang duduk sambil menikmati pertandingan, melainkan menjadi penggemar yang bersorak dan ada satu harapan memperbaiki ekosistem manusia Jepara. Tujuh tahun lalu harapan itu muncul, kemudian beberapa tahun setelah itu, hancur. Saya tidak tahu apakah masih bisa diperbaiki atau tidak. Kalaupun masih bisa perlu gerakan yang masif dan lompatan yang jauh ke depan untuk memperbaikinya. Saya tidak bermaksud menjadi penggemar paling setia apalagi intelektual di antara ribuan penggemar lainnya. Saya hanya seorang penggemar yang ingin mengabadikan Persijap Jepara 1954 dalam dasar hati saya dan tidak ada klub sepak bola lain yang berhak menggantikan kedudukannya. Cukup sulit...
Apa yang tidak aku temukan dalam ilmu pengetahuan, aku temukan dalam dirimu. Seolah-olah aku merasa bahwa aku menemukan diriku dalam dirimu Dan ternyata kamu adalah perempuan yang selama ini aku cari Dan ternyata kamu adalah bunyi yang aku hayati setiap pagi Dan untuk pertama kalinya aku bersaksi bahwa tiada perempuan selain engkau. Aku percaya bahwa Tuhan yang menciptakan perempuan secantik engkau adalah Tuhan Yang Mahabesar dan Maha Pengasih.